20.8.10

PENANGKARAN BENIH KENTANG

Penangkaran

Tidak susah menjadi penangkar benih kentang, hanya menyediakan tempat dan membangun screen house sederhana. Plantlet atau G0 (Generasi Nol) benih kentangnya termasuk teknologi penangkarannya sudah ada disediakan oleh perusahaan swasta mitra.
Budidaya kentang di Indonesia sebagian besar masih menggunakan benih yang berasal dari sisa kentang konsumsi. Biasanya sisa hasil panen yang berukuran kecil tidak dijual, tetapi dibenihkan sendiri oleh petani. Dari kondisi benih seperti itu sulit untuk menghasilkan produktivitas kentang yang tinggi dan bermutu.
Potensi pengembangan kentang cukup luas, yaitu sekitar 80.000 hektar/tahun. Kebutuhan benih kentang bermutu (G4)-nya rata-rata 120.000 ton. Dari kebutuhan bibit tersebut, hanya 0.9 % yang dapat dipenuhi dari benih impor dan hanya 1 % saja yang sudah dipenuhi dari hasil penangkaran di dalam negeri. Masih terbuka pasar untuk memenuhi kebutuhan bibit kentang.

Mulai dari Plantlet

Produksi benih kentang bermutu varietas unggul yang tepat jenis, varietas, mutu, jumlah, tempat, waktu dan harga dimulai dari produksi plantlet kentang dengan teknik kultur jaringan, yang dilakukan di laboratorium kultur jaringan. Selanjutnya, plantlet diaklimatisasi dalam media steril dan dalam ruang bebas serangga untuk menghasilkan umbi mikro (G0). Kemudian benih G0 ditanam untuk menghasilkan benih G1, demikian seterusnya G1 menghasilkan G2, G3 dan G4. Benih generasi keempat (G4) inilah yang merupakan benih sebar yang digunakan oleh petani.
Masih rendahnya penyediaan benih kentang bermutu hasil kultur jaringan, antara lain disebabkan oleh tingginya kebutuhan investasi bagi penangkar dan sangat lamanya waktu siklus usaha penangkar. Dari sejak aklimatisasi plantlet hingga menghasilkan benih sebar G4, dibutuhkan waktu sekitar 2 tahun. Dengan kondisi tersebut sangat sedikit petani atau pengusaha yang mampu menjadi penangkar benih kentang bermutu di Indonesia, kendati pasarnya masih sangat luas.
Benih kentang bermutu diproduksi melalui beberapa generasi, di antaranya plantlet, G0, G1, G2, G3 sampai dengan G4 (G0 dibaca Generasi nol dan seterusnya sampai G4). Plantlet atau Pre-nuclear didapat dari pemurnian varietas kentang dengan teknik kultur jaringan yang dilakukan di dalam laboratorium. Plantlet yang ada distek dan ditanam dalam screen house A untuk menghasilkan benih kentang G0 atau Nuclear, hasil panen yang berupa benih G0 disimpan di dalam gudang untuk kemudian ditanam lagi di screen house B untuk menghasilkan Elite Seed atau benih G1. Benih G1 kemudian ditanam lagi di lapangan untuk menghasilkan benih dasar G2 dan hasil panen disimpan dalam gudang. Selanjutnya diperbanyak kembali di lapangan untuk menghasilkan benih pokok G3 dan ditanam lagi agar menghasilkan benih sebar G4. Benih G4 inilah yang digunakan petani sebagai benih dalam budidaya tanaman kentang.

19.8.10

FOTO GALLERY

















13.8.10

TEKNIS BUDIDAYA

SYARAT PERTUMBUHAN

1.Iklim
Curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun, lama penyinaran 9-10 jam/hari, suhu optimal 18-21 °C, kelembaban 80-90% dan ketinggian antara 1.000-3.000 m dpl.

2.Media Tanam
Struktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik, berdrainase baik dan memiliki lapisan olah yang dalam dan pH antara 5,8-7,0.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

1. Pembibitan
- Umbi bibit berasal dari umbi produksi berbobot 30-50 gram, umur 150-180 hari, tidak cacat, dan varitas unggul. Pilih umbi berukuran sedang, memiliki 3-5 mata tunas dan hanya sampai generasi keempat saja. Setelah tunas + 2 cm, siap ditanam.
- Bila bibit membeli (usahakan bibit yang bersertifikat), berat antara 30-45 gram dengan 3-5 mata tunas. Penanaman dapat dilakukan tanpa/dengan pembelahan. Pemotongan umbi dilakukan menjadi 2-4 potong menurut mata tunas yang ada. Sebelum tanam umbi direndam dulu menggunakan POC NASA selama 1-3 jam (2-4 cc/lt air).

2. Pengolahan Media Tanam
Lahan dibajak sedalam 30-40 cm dan biarkan selama 2 minggu sebelum dibuat bedengan dengan lebar 70 cm (1 jalur tanaman)/140 cm (2 jalur tanaman), tinggi 30 cm dan buat saluran pembuangan air sedalam 50 cm dan lebar 50 cm.
Natural Glio yang sudah terlebih dahulu dikembangbiakkan dalam pupuk kandang + 1 minggu, ditebarkan merata pada bedengan (dosis : 1-2 kemasan Natural Glio dicampur 50-100 kg pupuk kandang/1000 m2).

3. Teknik Penanaman
3.1. Pemupukan Dasar
a. Pupuk anorganik berupa urea (200 kg/ha), SP 36 (200 kg/ha), dan KCl (75 kg/ha).
b. Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secukupnya secara merata di atas bedengan, dosis 1-2 botol/ 1000 m². Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA dengan cara :
alternatif 1 : 1 botol Super Nasa diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan Super Nasa untuk menyiram 10 meter bedengan.
Penyiraman POC NASA / SUPER NASA dilakukan sebelum pemberian pupuk kandang.
c. Berikan pupuk kandang 5-6 ton/ha (dicampur pada tanah bedengan atau diberikan pada lubang tanam) satu minggu sebelum tanam,

3.2. Cara Penanaman
Jarak tanaman tergantung varietas, 80 cm x 40 cm atau 70 x 30 cm dengan kebutuhan bibit + 1.300-1.700 kg/ha (bobot umbi 30-45 gr). Waktu tanam diakhir musim hujan (April-Juni).

4. Pemeliharaan Tanaman
4.1. Penyulaman
Penyulaman untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh/tumbuhnya jelek dilakukan 15 hari semenjak tumbuh.

4.2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan minimal dua kali selama masa penanaman 2-3 hari sebelum/bersamaan dengan pemupukan susulan dan penggemburan.

4.3. Pemangkasan Bunga
Pada varietas kentang yang berbunga sebaiknya dipangkas untuk mencegah terganggunya proses pembentukan umbi, karena terjadi perebutan unsur hara.

4.4. Pemupukan Susulan
a. Pupuk Makro
Urea/ZA: 21 hari setelah tanam (hst) 300 kg/ha dan 45 hst 150 kg/ha.
SP-36: 21 hst 250 kg/ha.
KCl: 21 hst 150 kg/ha dan 45 hst 75 kg/ha.
Pupuk makro diberikan jarak 10 cm dari batang tanaman.
b. POC NASA: mulai umur 1 minggu s/d 10 atau 11 minggu.
Alternatif I : 8-10 kali (interval 1 minggu sekali dengan dosis 4 tutup/tangki atau 1 botol (500 cc)/ drum 200 lt air.
Alternatif II : 5 - 6 kali (interval 2 mingu sekali dengan dosis 6 tutup/tangki atau 1,5 botol (750 cc)/ drum 200 lt air.
c. HORMONIK : penyemprotan POC NASA akan lebih optimal jika dicampur HORMONIK (dosis 1-2 tutup/tangki atau + 2-3 botol/drum 200 liter air).

4.5. Pengairan
Pengairan 7 hari sekali secara rutin dengan di gembor, Power Sprayer atau dengan mengairi selokan sampai areal lembab (sekitar 15-20 menit).

5. Hama dan Penyakit
5.1. Hama
Ulat grayak (Spodoptera litura)
Gejala: ulat menyerang daun hingga habis daunnya. Pengendalian: (1) memangkas daun yang telah ditempeli telur; (2) penyemprotan Natural Vitura dan sanitasi lingkungan.

Kutu daun (Aphis Sp)
Gejala: kutu daun menghisap cairan dan menginfeksi tanaman, juga dapat menularkan virus. Pengendalian: memotong dan membakar daun yang terinfeksi, serta penyemprotan Pestona atau BVR.

Orong-orong (Gryllotalpa Sp)
Gejala: menyerang umbi di kebun, akar, tunas muda dan tanaman muda. Akibatnya tanaman menjadi peka terhadap infeksi bakteri. Pengendalian: Pengocoran Pestona.

Hama penggerek umbi (Phtorimae poerculella Zael)
Gejala: daun berwarna merah tua dan terlihat jalinan seperti benang berwarna kelabu yang merupakan materi pembungkus ulat. Umbi yang terserang bila dibelah, terlihat lubang-lubang karena sebagian umbi telah dimakan. Pengendalian : Pengocoran Pestona.

Hama trip ( Thrips tabaci )
Gejala: pada daun terdapat bercak-bercak berwarna putih, berubah menjadi abu-abu perak dan mengering. Serangan dimulai dari ujung-ujung daun yang masih muda. Pengendalian: (1) memangkas bagian daun yang terserang; (2) mengunakan Pestona atau BVR.

5.2. Penyakit
Penyakit busuk daun
Penyebab: jamur Phytopthora infestans. Gejala: timbul bercak-bercak kecil berwarna hijau kelabu dan agak basah hingga warnanya berubah menjadi coklat sampai hitam dengan bagian tepi berwarna putih yang merupakan sporangium dan daun membusuk/mati. Pengendalian: sanitasi kebun. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.

Penyakit layu bakteri
Penyebab: bakteri Pseudomonas solanacearum. Gejala: beberapa daun muda pada pucuk tanaman layu dan daun tua, daun bagian bawah menguning. Pengendalian: sanitasi kebun, pergiliran tanaman. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.

Penyakit busuk umbi
Penyebab: jamur Colleotrichum coccodes. Gejala: daun menguning dan menggulung, lalu layu dan kering. Bagian tanaman yang berada dalam tanah terdapat bercak-bercak berwarna coklat. Infeksi akan menyebabkan akar dan umbi muda busuk. Pengendalian: pergiliran tanaman , sanitasi kebun dan penggunaan bibit yang baik. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam

Penyakit fusarium
Penyebab: jamur Fusarium sp. Gejala: busuk umbi yang menyebabkan tanaman layu. Penyakit ini juga menyerang kentang di gudang penyimpanan. Infeksi masuk melalui luka-luka yang disebabkan nematoda/faktor mekanis. Pengendalian: menghindari terjadinya luka pada saat penyiangan dan pendangiran. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.

Penyakit bercak kering (Early Blight)
Penyebab: jamur Alternaria solani. Jamur hidup disisa tanaman sakit dan berkembang di daerah kering. Gejala: daun berbercak kecil tersebar tidak teratur, warna coklat tua, meluas ke daun muda. Permukaan kulit umbi berbercak gelap tidak beraturan, kering, berkerut dan keras. Pengendalian: pergiliran tanaman. Pencegahan : Natural Glio sebelum/awal tanam

Penyakit karena virus
Virus yang menyerang adalah: (1) Potato Leaf Roll Virus (PLRV) menyebabkan daun menggulung; (2) Potato Virus X (PVX) menyebabkan mosaik laten pada daun; (3) Potato Virus Y (PVY) menyebabkan mosaik atau nekrosis lokal; (4) Potato Virus A (PVA) menyebabkan mosaik lunak; (5) Potato Virus M (PVM) menyebabkan mosaik menggulung; (6) Potato Virus S (PVS) menyebabkan mosaik lemas. Gejala: akibat serangan, tanaman tumbuh kerdil, lurus dan pucat dengan umbi kecil-kecil/tidak menghasilkan sama sekali; daun menguning dan jaringan mati. Penyebaran virus dilakukan oleh peralatan pertanian, kutu daun Aphis spiraecola, A. gossypii dan Myzus persicae, kumbang Epilachna dan Coccinella dan nematoda. Pengendalian: tidak ada pestisida untuk mengendalikan virus, pencegahan dan pengendalian dilakukan dengan menanam bibit bebas virus, membersihkan peralatan, memangkas dan membakar tanaman sakit, mengendalikan vektor dengan Pestona atau BVR dan melakukan pergiliran tanaman.

Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

6. Panen
Umur panen pada tanaman kentang berkisar antara 90-180 hari, tergantung varietas tanaman. Secara fisik tanaman kentang sudah dapat dipanen jika daunnya telah berwarna kekuning-kuningan yang bukan disebabkan serangan penyakit; batang tanaman telah berwarna kekuningan (agak mengering) dan kulit umbi akan lekat sekali dengan daging umbi, kulit tidak cepat mengelupas bila digosok dengan jari.

Benih Kentang (G3) Siap Tanam

CARA MENANAM

3.2.10

Tempat Pembenihan Kentang Bersertifikat

Umbi Kentang Kategori Benih (G3)

EVALUASI PERBANYAKAN BENIH

Berdasarkan data pada Tabel 1 dapat diambil kesimpulan bahwa produksi G0 di Screen House A masih fluktuatif, berkisar antara 1 – 3 knol per stek tanaman, sedangkan target yang ingin dicapai adalah 4 – 6 knol per stek tanaman. Permasalahan yang dihadapi pada perbanyakan G0 ini adalah :
1.Ketersediaan tanah untuk memenuhi Screen House, karena harus lapisan top soil
dan harus bebas dari penyakit yang dapat ditularkan melalui tanah.
2.Ketersediaan stek, karena sejak tahun 1995 BBI sudah tidak menerima stek dari
BALITSA sehingga untuk memenuhi kebutuhan stek dilakukan dengan sistem
perbanyakan dari G0 ke G0.
3.Laboratorium kultur jaringan yang ada belum dapat menghasilkan planlet secara
optimal karena baru dioperasionalkan pada akhir tahun 1998.

Dari data pada Tabel 2 dapat disimpulkan bahwa produktivitas di Screen House B sejak phase pertama sampai dengan phase kedua masih berkisar antara 3 – 5 knol per umbi, sedangkan target yang diinginkan adalah 8 – 10 knol per rumpun.
Permasalahan yang dihadapi adalah :
1.Terbatasnya Screen House B, karena jika Screen House A dioptimalkan maka
Screen House B yang ada tidak bisa menampung produksi dari Screen House A.
2.Terbatasnya tanah untuk Screen House B, walaupun di steam dahulu tetapi tetap
memerlukan lapisan atas/ top soil.
3.Masih rendahnya produktivitas di Screen House B.
4.Biaya operasional terbatas, terutama untuk kegiatan-kegiatan persiapan lahan.
5.Ketersediaan air semakin berkurang karena lingkungan sekitarnya sudah
terganggu.

Berdasarkan data pada Tabel 3, produktivitas G2 di lahan BBI masih
berfluktuasi. Namun jika dilihat dari perolehan berat, ada peningkatan rata-rata
produksi dari 14 ton/ha pada Phase I menjadi 19.5 ton/ha pada Phase II. Hal ini dapat
disebabkan oleh:
1.Semakin bertambahnya penggunaan knol per hektar dari rata-rata 58 000 knol/ha
pada Phase I menjadi rata-rata 65 000 knol/ha pada Phase II.
2.Semakin rendahnya tingkat kerusakan benih yang disebabkan oleh hama dan
penyakit utama seperti scab dan nematoda.

Permasalahan yang dihadapi :
1.Terbatasnya lahan G2 di BBI, sehingga tidak bisa menampung kelebihan produksi
dari Screen House B.
2.Ketersediaan air yang semakin terbatas karena lingkungan sekitarnya sudah
terganggu. Hal ini menjadi masalah jika penanaman jatuh pada musim kemarau.
3. Adanya kemungkinan serangan hama dan penyakit terutama Aphid dan Lalat
Penggorok Daun.

Produktivitas G3 sejak Phase I sampai Phase II masih fluktuatif. Rata-rata produktivitas per/ha adalah 11.15 ton. Rendahnya pencapaian produksi ini disebabkan oleh :
1.Manajemen BBU yang selalu berubah, sehingga mempengaruhi pelaksanaan di
lapangan terutama dalam biaya produksi benih.
2.Gangguan hama dan penyakit serta gangguan alam lainnya seperti kekeringan.

Produktivitas benih kelas G4 di penangkar masih rendah, berkisar antara 3-13 ton per hektar, hal ini sangat jauh dari harapan, padahal biaya produksi untuk menghasilkan benih sangat tinggi, berkisar antara 50 – 60 juta rupiah/ha. Dengan biaya produksi tinggi dan produktivitas yang rendah, maka harga benih G4 untuk
petani menjadi tinggi.

Permasalahan :
1.Rendahnya produktivitas penangkaran di petani, karena teknologi perbenihan belum
dikuasai.
2.Terbatasnya biaya permodalan untuk penangkaran benih sehingga pengelolaan
penangkaran menjadi kurang optimal.
3.Terbatasnya lahan untuk penangkaran benih yang memenuhi persyarantan sertifikasi.
4.Meningkatnya harga sarana produksi, terutama sarana pengendalian seperti obatobatan
(pestisida) serta banyaknya peredaran pestisida palsu.